Selasa, 31 Januari 2012

ANGKOT JAWA = TAKSI KALIMANTAN

Eh.. Tau gak kalau Angkot di Kalimantan itu disebut Taksi? Sedang di Jawa Taksi sama Angkot itu beda. Ada cerita menarik tentang temanku mengenai hal ini.

Temanku itu berasal dari Kalsel sama denganku tepatnya dari Banjarmasin namanya Habibi, sedang aku Kotabaru. Dia karyawan baru di tempat kami bekerja.

Suatu kali kami sedang melaksanakan tugas kami untuk survey lapangan yang merupakan pekerjaan kami. Dan ini adalah hari pertama Habibi yang merupakan karyawan baru, masih dalam masa trainingnya karena itu dia hanya mengikuti saja.

Angkot atau yang lebih sering disebut Len untuk orang Surabaya (entah sebenarnya penulisan Len itu yang benar bagaimana. Tapi aku pernah melihat tulisannya Lyn di dalam Len itu sendiri), itulah pilihan transportasi kami. Sudah jelas karena alasan murah, sebab len tarifnya berdasarkan trayek, mau dekat atau jauh selama masih dalam rute yang ditentukan harganya segitulah yang dibayar. Sedangkan taksi tarifnya berdasarkan argo, seberapa jauh yang ditempuh menentukan seberapa yang akan dibayar.

Kejadiannya saat survey kami sudah selesai dan kami sedang menunggu len untuk kembali ke kantor. Saat itu seperti biasanya siang di Surabaya, matahari begitu panas menyengat sedang len yang ditunggu-tunggu tidak muncul-muncul juga sampai membuat Habibi capek menunggu dan berkata, "haduh.. Mana sih taksinya ini kok gak ada-ada." Seketika membuat teman-teman yang lain kaget. "Mau naik taksi kah anak ini," pikir teman-teman, "wah.. Habis berapa nanti nih...?"

Seketika aku tertawa karena menyadari apa yang terjadi, membuat teman-teman yang lain tambah bingung. Lalu aku jelaskan pada mereka bahwa yang dimaksud taksi oleh Habibi adalah angkot atau len itu sendiri dan Habibi membenarkannya.

Tapi sebenarnya aku penasaran, memangnya di Banjarmasin tidak ada taksi juga tah seperti di Kotabaru? Soalnya aku memang belum pernah ke Banjarmasin.


31 januari 2012, fil

ANGKOT

"3rb pp = 6rb x 30hr = 180rb adalah biaya angkotmu sebulan," kata sopir angkot itu. "Kenapa gak nyicil sepada motor saja, toh gajihmu cukup untuk itu. 180rb itu tinggal ditambah sedikit saja untuk membayar cicilan," katanya lagi.

Sekilas aku membenarkan perkataannya. Tapi setelah aku turun dari angkot itu, pikiranku berubah lagi. Selain masih ada keperluan lain sehingga tidak memungkinkanku untuk kredit sepeda motor seperti kata sopir angkot itu, aku juga tidak suka kredit. Lagipula.. Semestinya engkau senang wahai sopir angkot sesenang aku membayar jasamu, dengan terselip niat berbagi.

Yah... Aku ingin berbagi denganmu para sopir angkot. Aku bangga naik angkotmu yang selain telah berjasa mengantarkanku, juga tak jarang aku mendapatkan inspirasi di sana, di dalam angkotmu.

Lagipula... Aku belum bisa mengendarai sepeda motor.


31 januari 2012, fil

Sabtu, 28 Januari 2012

SAMA

Penasaran... Adakah mungkin suatu peristiwa yang sama di satu waktu di ruang yang berbeda?

Seumpamanya saat kita sedang makan tentu saja ada juga orang yang sedang makan di ruang atau tempat lain di saat itu. Tapi, adakah mungkin kiranya kita makan makanan yang mungkin sama dengan apa yang dia makan? Itu juga masih mungkin. Bagaimana jika mungkin dia makan dengan piring yang bentuk serta motifnya juga sama, atau sendok yang mungkin juga sama, atau bahkan mungkin cara menikmati makanannya juga sama seperti kita menikmatinya?

Bagaimana jika lebih ekstrim lagi. Setiap geraknya, setiap langkahnya, setiap apa yang dia pikirkan, setiap apa yang dia rasakan sama dengan setiap gerak kita, setiap langkah kita, setiap apa yang kita pikirkan, setiap apa yang kita rasakan dalam satu waktu yang sama (terlepas dari perbedaan hitungan waktu tentunya seperti malam dan siang) namun di ruang yang berbeda.

Wah.. Kalau ada bener-bener belahan jiwa tuh atau mungkin keajaiban dunia hehehehehe...


28 januari 2012, fil