Kulihat sungai di kota besar sungguh jauh berbeda dengan sungai di dekat rumahku yang masih termasuk di dalam hutan tapi juga dekat dengan kotanya yang kecil. Sungai di kota besar itu begitu kotor menjadi tempat pembuangan sampah dan limbah manusia, itulah salah satu yang membuatku rindu rumah. Rumah yang diapit dua sungai tempat aku mandi, yang airnya masih termasuk bersih meski lambat laun gejala-gejala ia akan menjadi sungai seperti di kota besar juga mulai terlihat.
Padahal di sungai itulah semua kebutuhan kami bergantung mulai dari air untuk minum dan memasak, mandi, mencuci pakaian, ada juga yang mencuci perabotan, bahkan sampai sepeda motor, juga pastinya ada yang beol, hehehe. Tapi aku perhatikan untuk yang terakhir sebenarnya bukan masalah karena selain air itu banyak lagi mengalir, ada penyaring alaminya juga ada ikan-ikan yang memakan kotoran itu.
Ikan-ikan penjaga sungai yang menjaga sungai tetap bersih paling tidak dari kotoran manusia. Ikan-ikan yang juga menarik perhatian orang-orang untuk menangkapnya dengan memancingnya. Seperti daur ulang ikan-ikan itu memakan kotoran kita lalu kita tangkap dan kita makan kembali, hehehe.
Tapi kemudian ada orang-orang yang serakah tidak puas hanya dengan hasil menangkap ikan-ikan itu dengan pancing saja. Tidak seperti yang lainnya yang memancing bukan dengan tujuan hasil tapi sekedar bersenang-senang dengan teman-teman atau sekedar refreshing dengan bonus ikan bakar atau digoreng, tapi ikan-ikan itu sendirilah tujuan mereka. Sampai mereka tidak perduli menggunakan cara apapun asalkan mendapatkan banyak ikan, bila perlu seluruh isi sungai itu tanpa memikirkan dampaknya akhirnya mereka gunakan setrum bahkan racun.
Maka, tentu saja mereka mendapatkan banyak ikan, besar-besar malah tapi juga sekaligus membunuh yang kecil-kecil. Matilah semua. Seolah mereka hanya hidup untuk hari ini, tak memikirkan esok hari, generasi mereka sendiri yang mungkin juga ingin merasakan lezatnya ikan-ikan sungai itu. Mereka bunuh sampai ke bibit-bibit ikan terkecil yang sebenarnya membunuh bibit-bibit mereka sendiri untuk menikmati suatu anugrah. Anugrah yang mereka hancurkan sendiri. Tidak ada lagi ikan-ikan penjaga sungai kini. Tidak ada lagi yang membersihkan sungai dari kotoran manusia.
Juga ditambah pabrik-pabrik yang membutuhkan banyak air untuk proses produksi mereka, tentu saja sungai adalah pilihan yang tepat. Maka dibangunlah pabrik-pabrik itu di dekat aliran sungai. Pabrik-pabrik yang bukan hanya menghasilkan produk, tapi juga limbah.
Awalnya mereka juga sadar dengan limbah yang mereka hasilkan, maka dibuatlah kolam besar untuk menampung limbah itu. Tapi seiring berjalannya waktu kolam itu penuh bahkan merembes keluar, akhirnya mereka alirkan limbah itu ke sungai. Begitulah pabrik-pabrik yang payah, tidak memiliki solusi untuk masalah limbahnya kecuali mencemari lingkungan.
Di bawah yang pemukiman penduduknya padat mendapati sungai penuh dengan kotoran dan limbah. Tidak seperti pemukiman yang di atas yang masih jarang penduduknya, masih bisa menikmati sungai untuk mandi dan mencuci itu pun ke atas lagi ke tempat yang airnya masih bersih tentunya. Maka oleh penduduk di bawah yang padat, sekalian saja mereka jadikan sungai tempat pembuangan. Mereka buang sampah apa saja di sungai. Saluran-saluran tinja, selokan dan saluran pembuangan lainnya pun mereka arahkan ke sungai.
Berubahlah sudah sungai yang dulu menjadi sumber air untuk segala macam kebutuhan kehidupan yang memang tak pernah lepas dari air menjadi tempat pembuangan segala macam sampah yang apabila di musim hujan menyebabkan banjir karena salurannya mampet tertutup oleh sampah. Juga menjadi sarang penyakit, beracun dan bau.
Meskipun demikian kenyataannya sepertinya juga membawa berkah lain bagi sebagian orang, yaitu mereka yang menjual air. Seperti mereka yang telah terpasang saluran PDAM atau orang yang menjual air dari sumber yang jauh dari hulu sungai. Terakhir, akhirnya orang-orang (perorangan atau gotong royong) membuat saluran sendiri yang mengalirkan air dari hulu sungai yang masih bersih ke rumah mereka.
Mau dari PDAM, penjual air, atau dari saluran air sendiri yang pasti kini harus membayar untuk mendapatkan air. Bahkan di tempat yang berdekatan dengan aliran sungai sekalipun dimana banyak air mengalir.
3 februari 2012, fil


Tidak ada komentar:
Posting Komentar